Jumat, 17 Agustus 2012

DIMANAKAH NILAI KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB…?


DIMANAKAH NILAI KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB…?

Ketika moralitas bangsa ini menjadi sorotan karena terdegradasi  muncul sekarang persoalan dari mana kita memulai perbaikan bangsa ini,bangsa Indonesia mempunyai nilai-nilai luhur yang menjadi pegangan peradaban berbangsa dan bernegara,tercermin dalam sila kedua Pancasila “Kemanusiaan yang adildanBeradab”.
Kemanusiaan yang memiliki keadilan dan mempunyai Peradaban dalam segala sendi kehidupan.Keadilan yang menjadi identitas bangsa ini hanya menjadi sebuah impian masyrakat kecil yang terus menjadi objek ketidak adilan elitpolitik yang tidak beradab.Keadilan macam apa yang sesungguhnya yang terkandung dalam nilai Pancasila bagi segenap bangsa Indonesia itu.
Dalam sebuah karyanya Prof. Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, menjelaskan tentang makna adil, yaitu
“menimbang yang samaberat, menyalahkan yang salahdanmembenarkan yang benar, mengembalikan hak kepada yang empunya dan jangan berlaku zalim, aniaya.” Lawan dari adil adalah zalim, yaitu memungkiri  kebenaran karena hendak mencari keuntungan bagi diri sendiri; mempertahankan perbuatan yang salah sebab yang bersalah itu ialah kawan atau keluarga sendiri .“Makaselama keadilan itu masih terdapat dalam masyarakat,pergaulan hidupmanusia,maka selama itu pula pergaulan akan aman sentosa, timbul amanat dan percaya-mempercayai,” tulisHamka.
Jika kita mengoreksi kenyataan hari ini ketidak adilan dan ketidak beradaban jadi satu paket dalam wacana perbaikan moralitas bangsa ini  ,dari pakar politik,jurnalis,praktisi pendidikan mulai mencari langkah untuk solusi perbaikan bangsanya. Persoalannya,penyakit ini sudah kronis tidak bias hanya diseminarkan dan dibahas di media,masyarakat Indonesia   hanya bias meratapi nasib bangsanya karena mereka tidak percaya lagi kepada para pemimpin  yang mereka amanahkan membangun peradaban yang  adil dan beradab.
 Ketidak adilan membuat mereka bertindak anarkis melanggar aturan dan hukum,akhirnya mereka buat sendiri pengadilan rakyat dan mereka sendiri yang menjadi hakimnya tak peduli aparat atau pejabat  di  dapannya.Masyarakat Indonesia sudah jenuh dengan suguhan sarapan pagi di meja informasi setiap hari harus menelan kenyataan batapa hancur potret bangsanya.Ironisnya tokoh dan pigur pemimpin yang mereka banggakan jadi dalang dan peran utama dalam mencoreng lembaran kelam negeri yang adil dan beradab.
Berbicara konsep adab memang sangat terkait dengan pemahaman tentang wahyu atau kitab suci konsep adab bukan sekedar mereka sopan dan santun tapi kesopanan dan kesantunan itu harus sesuai dengan harkat dan martabat sesuai dengan kehendak Ilahiyah dalam kata lain Ahlak.Tak bias kita pungkiri pornografi dan sekbebas,premanisme dikalangan pelajar yang kurang ajar menampar muka para pengajar yang hanya mementingkan otaknya cerdas dan kompotitif dieara globalisasi tapi luput memberikan pendidikan moral dan ahlak kepada siswanya.
Apa yang salah dengan kondisi hariini.?,siapa yang bertanggung jawab dengan semua ini?..tentulah kita mulai dari diri peribadi kita untuk muhasabah,pepatah mengatakan “buah  yang  kita petik hari ini adalah biji  yang  kita semai hari yang lalu”.
Negara ini begitu banyak alim-alim ulamanya,orang-orang cerdas,pemimpin-pemimpin yang jujur ingat itu belum jaminan mereka mampu mengurai ulang benang yang  sudah kusut jika kita tidak berperan aktif sebagai elemen bangsa untuk ikut serta mengambil bagian dari perbaikan bangsa ini.
Kembali kepada diri kita yang jadi bagian dari bangsa ini,mulai diri kita yang kita perbaiki dengan berpegang teguh kepada ajaran agama dan keyakinan.Begitu banyak prilaku dan kebijakan yang sudah menyimpang dari ajaran Agama, maupun morma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Tidak dapat kita pungkiri bahwa moralitas suatu masyarakat mencerminkan bagaimana kehidupan masyarakat itu.
Nabi Muhammad saw berhasil membangun peradaban Islam di Madinah, yakni suatu masyarakat  yang menegakkan adab dalam kehidupan mereka. Masyarakat beradab adalah masyarakat yang memuliakan orang yang beriman, berilmu, orang yang shalih, dan orang yang taqwa,bukan orang yang kuasa, bukan banyak harta, bukan keturunan raja, bukan berparas rupawan, dan bukan banyaknya pengikut.
Peradaban yang dibangun Nabi Muhammad saw di Madinah adalah sebuah contoh ideal. Masyarakat Madinah adalah masyarakat yang haus ilmu, cintaibadah, dan cinta pengorbanan.Kondisi itu sangat jauh berbeda denngan kondisi masyarakat Jahiliah, yang merupakan masyarakat yang tidak beradab, alias masyarakat biadab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar