Tampilkan postingan dengan label ISLAMIC FILE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAMIC FILE. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2012

Astronomi dan Geologi Kabah di Planet Bumi




 Penemuan batuan prekambrium di Jazirah Arab sangat mendukung fakta mengenai Kota Makkah, yang konon didasari oleh batuan beku vulkanik tertua di planet bumi. Artinya, hipotesis bahwa Ka’bah terletak di atas daratan tertua mulai terkuak sedikit demi sedikit.Pandangan sains dan Alquran menyatakan bahwa planet bumi adalah sebuah planet yang terbentuk dari hasil ledakan bintang (supernova) sekitar ±5 miliar tahun lalu.Sebelumnya, alam semesta telah dipersiapkan sejak ±13/7-18,24 miliar tahun lalu. Sebuah ledakan dahsyat yang diakibatkan adanya kekuatan gravitasi, kemudian terjadi pada alam semesta (teori Big Bang). Peristiwa itu terjadi ketika langit dan bumi masih menjadi satu titik, yang disebut dengan “titik singularis” Pascaterjadinya ledakan dahsyat tersebut, alam semesta mulai terbentuk, ruang dan waktu mulai muncul sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.Allah SWT berfirman,
 “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 30).

Peristiwa selanjutnya adalah munculnya makhluk-makhluk lain, seperti proton (+) dan elektron (-) sebagai pasangan makhluk pertama yang dipertemukan oleh Sang Pencipta. Selain itu, tercipta juga inti atom Helium (He), dan inti atom Hi­drogen (H) sebagai cikal bakal molekul air (Hfi).
Sejak saat itu, langit mulai mengembang seperti balon yang ditiup, sebagaimana yang dikemukakan oleh teori Hubble. Bintang-bintang mulai terbentuk. Bintang-bintang tersebut saling mendekat akibat adanya gravitasi dan mengumpul berdasarkan berat jenisnya.
Mereka saling terikat dalam gugusan bintang (galaksi). Itulah zaman keemasan alam semesta (8,7—9,1 miliar tahun lalu), sebuah zaman di mana banyak bintang serta gugusan bintang silih berganti lahir dan mati dalam kisaran ratusan juta hingga miliaran tahun.

Sejak awal, ada hubungan yang sangat erat dalam hal terciptanya planet bumi dan alam semesta. Pantaslah bila Allah SWT dalam Alquran selalu menyandingkan “langit” dan “bumi” sebagai pasangan yang tidak terpisahkan dan tidak pernah terbalik dalam penyebutannya (sesuai urutan genesis).Sebuah ledakan bintang (supernova) yang terjadi pada lima miliar tahun lalu telah melahirkan bintang matahari beserta pecahannya beberapa ratus juta tahun kemudian. Pada kenyataannya, sistem tata surya kita terdiri atas 11 planet, bukan hanya 9 planet. Planet-planet tersebut ialah Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Ceres, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto, dan Eris.Kenyataan tersebut telah dikemukakan oleh ahli astronomi kelas dunia bernama David A Aguilar pada Februari 2008 dan telah disiarkan melalui film National Geographic. Kondisi serupa pun dinyatakan dalam Surah Yusuf

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."( Q.S Yusuf (12:4 )
Apabila menyimak ayat tersebut,  kata “kaukab” atau dapat diartikan pula sebagai “planet”, bukan hanya bintang. Bintang dalam surah Alquran disebut juga sebagai najm.
Bahkan, surah bintang disebut An-Najm, bukan? Jadi, lebih cocok kiranya memilih “planet” untuk menerjemahkan kata “kaukaban”.
Berselisih sekitar ±500 juta tahun, Planet Bumi terbentuk dari bagian pecahan bintang Matahari. Dalam keadaan membara selama ratusan juta tahun, kemudian kulit luar Planet Bumi mengalami pembekuan sehingga bagian kulit atau kerak bagian luarnya menjadi daratan yang tampak seperti hamparan sebuah karpet dan langit (atmosfer) sebagai atap.

“(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dan langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. “Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 22).

Setelah bagian kulit terluar Planet Bumi mulai membeku, maka terbentuklah daratan yang sangat luas bagaikan hamparan karpet tak berujung.Logislah bila dalam Alquran Allah sering menggunakan kata “hamparan” dalam proses penciptaan bumi karena planet ini memang, pada awal kejadiannya, bagaikan hamparan karpet. Subhanallah!.

Selanjutnya, Planet Bumi mengalami benturan dahsyat dengan sebuah asteroid sebesar Planet Mars. Bumi tersobek, dan sobekan kulitnya terlontar ke ruang angkasa. Pecahan- pecahan kulit bumi tersebut bergabung menjadi satu selama satu tahun dan membentuk satelit Bulan.

Firman Allah SWT, “… dan Allah (juga) menurunkan dari langit bebongkahan yang di dalamnya ada kristal es. Maka ditimpakan-Nya bongkahan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan.” (QS. Al-Nur [24]: 43).

Berdasarkan penjelasan NASA (Lembaga Antariksa Amerika Serikat), air yang ditemukan di bumi memang sebagian besar (90-95 persen) bukan berasal dari Planet Bumi. Air itu berasal dari komet yang menumbuk bumi sebesar 30-40 ton/3 detik sehingga mengakibatkan kenaikan permukaan laut mencapai 2,5 cm/20 ribu tahun. Subhanallah!

Planet Bumi terus dibombardir oleh komet yang berisi kristal es selama 200-300 juta tahun. Maka, mulailah terbentuk lautan pada saat Planet Bumi berumur 3,8 miliar tahun. Pada saat itulah, Planet Bumi menyemai kehidupannya dalam lautan yang tidak bertepi.Bagian interior Planet Bumi masih terus membara hingga temperaturnya mencapai 3.700-4.500°C, dengan tekanan 1,37 juta atm. Sebagian kulitnya telah membeku menjadi dasar samudra untuk menjaga keseimbangan temperatur dan tekanannya.

Planet Bumi harus berserdawa sehingga gunung-gunung berapi bawah laut bermunculan untuk mengeluarkan material-material pendukung kehidupan.Aktifnya gunung-gunung api bawah laut pada kurun waktu 3,5 miliar tahun lalu itu membuat kehangatan dalam lautan. Kondisi ini menyebabkan ganggang hijau biru mulai hidup semarak dan berfotosintesis melepaskan oksigen (02) dalam rangka mendukung terciptanya atmosfer Bumi pada 2-2,5 miliar tahun lalu.Gas 02 yang terlepas tersebut menggantikan dominasi C02 dalam atmosfer, yang dihasilkan dari berserdawanya Planet Bumi melalui gunung-gunung api bawah laut.Pada ratusan juta tahun lalu, salah satu gunung api bawah laut membesar serta meninggi, dan akhirnya melampaui permukaan air laut. Gunung ini secara terus-menerus memuntahkan lavanya sehingga terbentuklah daratan pertama di Planet Bumi.Muntahan lava basal terus mengembang, meluas dan membentuk daratan hingga menempati Planet Bumi. Disebabkan oleh kehadiran daratan awal (benua pertama) yang disebut sebagai Pangea (Alfred Wegener, 1923).


Permukaan air laut menjadi naik beberapa kali lipat mengikuti hukum alam yang ada, menyesuaikan dengan ruang yang ditempati oleh daratan yang semakin luas.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa penciptaan Planet Bumi, yang kini didiami oleh 6,7-7 miliar manusia, hanyalah semisal menghadirkan sebuah benda sebesar atom bila dibandingkan dengan luasnya alam semesta ini.

Kehadiran Planet Bumi di alam semesta raya ini merupakan bagian dari rencana Allah SWT untuk menghadirkan “Khalifatullah fil Ardhi” yakni Nabi Adam AS, nenek moyang ras manusia modern.
Keberadaan Adam AS tak lain adalah untuk menunggu kehadiran salah satu keturunannya, yang akan menjadi utusan penutup dan utusan bagi seluruh semesta alam, Nabi Besar junjungan umat manusia, Muhammad SAW.

Pada titik munculnya gunung pertama di bawah laut itulah yang sekarang menjadi titik di mana Ka’bah berada, sebagaimana informasi dalam hadis Rasulullah SAW, “Dahulu Ka’bah adalah bukit/gunung kecil di atas air kemudian dibentangkanlah bumi dari (bawah)nya.” (An-Nihayah fi Gharib Al-Hadis wa Al-Atsar, Juz II, h. 34-35).Subhanallah, hanya itu yang dapat kita ucapkan bersama.

Tatkala daratan, lautan, dan gunung-gunung, sebagai cikal bakal benua besar Pangea terbentuk, mulailah benua besar ini memecah dirinya menjadi beberapa bagian, sebagai akibat dari pergerakan “bubur” magma panas dan tekanan yang ada dalam interior Planet Bumi (Teori Vening Meinesz).Pergerakan aliran panas dalam tubuh Planet Bumi tersebut menyebabkan retakan lempeng bumi, yang kemudian terekspresikan dalam bentuk gempa bumi dan pembentukan gunung-gunung berapi di permukaan bumi, baik di bawah maupun di permukaan laut.

Hal ini telah dijelaskan oleh Alquran dalam Surah Al-Naml (QS. 27: 88), Al-Anbiya’ (QS. 21: 31), dan Fushshilat (QS. 41:10).
“Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti tentang apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Naml [27]: 88).

Kemudian Firman Allah SWT, “Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kukuh agar ia (tidak) guncang bersama mereka, dan Kami jadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al- Anbiya’ [21]: 31).

Dan Firman Allah SWT, “Dan Dia ciptakan padanya gunung-gunung yang kukuh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi, dan Dia tentukan makanan-makanan (bagi penghuni)nya dalam empat masa, memadai untuk (memenuhi kebutuhan) mereka yang memerlukannya.” (QS. Fushshilat [41]: 10).

Untuk membuktikan bahwa Ka’bah atau Kota Makkah memang merupakan titik awal di mana gunung api bawah laut muncul membentuk daratan, maka diperlukan data-data mengenai struktur batuan dasar pendukungnya.Batuan itu harus merupakan batuan ubahan (metamorf) yang berasal dari batuan beku ekstrusip (vulkanis). Hal ini mengingat batuan pertama yang dimuntahkan oleh Planet Bumi sebagai cikal bakal daratan adalah batuan beku vulkanis berkomposisi basa atau asam basal atau rhyolite (karena terbentuk langsung dari lelehan magma yang keluar dari perut bumi).
Dalam peta geologi Saudi Arabia, yang menunjukkan bahwa bagian bawah Kota Makkah atau Ka’bah merupakan batuan ubahan (metamorf) yang berasal dari batuan beku luar berkomposisi basa yang disebut batuan beku vulkanis basal.

Analisis data umur menunjukkan bahwa batuan beku basal di bawah Kota Makkah di mana Ka’bah terletak berumur prekambrium (600-700 juta tahun) sebagai lempeng Benua Arabia, yang kemudian tertutup dengan batuan beku vulkanis (basal) berumur 10-30 juta tahun sebagai efek terbentuknya Laut Merah.

Penemuan batuan berumur prekambrium di atas, justru lebih tua dari yang diperkirakan sehingga sangat mendukung fakta bahwa Kota Makkah didasari oleh batuan beku basal tertua di Planet Bumi. Artinya, hipotesis bahwa Ka’bah terletak di atas daratan tertua mulai terkuak sedikit demi sedikit dan membuktikan kebenaran hadis Rasulullah SAW yang menyatakan, “Dahulu Ka’bah adalah bukit/gunung kecil di atas air kemudian dibentangkanlah bumi dari (bawah)-nya.”

Bila kita coba letakkan titik yang kita asumsikan sebagai letak Kota Makkah/Ka’bah di Planet Bumi pada posisi-posisi benua sejak 225 juta tahun hingga sekarang, maka terbukti bahwa Kota Makkah tidak bergerak secara signifikan (hanya naik turun).Seolah-olah, titik tersebut menjadi poros pergerakan Benua Laurasia dan Gondwana, yang merupakan cikal bakal terbentuknya Benua Amerika Utara, Asia, Eropa, Amerika Selatan, Afrika, Australia, India, dan Antartika.

Beranjak dari kenyataan di atas, para ahli geologi Arab Saudi meyakini Ka’bah atau Kota Makkah sebagai poros dari semua pergerakan benua dengan kecepatan rata-rata 4-12 cm/tahun. Pada skema bilangan umur di atas, tercatat beberapa kejadian geologi penting sejak 4,56 miliar tahun silam hingga saat ini.

Ka’bah adalah rumah ibadah manusia pertama, telah ditentukan posisinya oleh Allah SWT berdekatan dengan waktu kehadiran Adam AS di Planet Bumi. Meski demikian, cikal bakal lokasinya telah dijaga oleh para malaikat-Nya sejak miliaran tahun lalu, yaitu tatkala daratan mulai muncul (600-700 juta tahun yang lalu) setelah Planet Bumi dikuasai oleh lautan tak bertepi sejak 3,8 miliar tahun yang lalu. Subhanallah!

Begitu dimanjakannya manusia dengan penciptaan jagat raya hingga penciptaan Planet Bumi. Bahkan, Ka’bah sebagai “monumen” penggerak hati seluruh manusia telah diletakkan jauh sebelum manusia hadir di bumi. Pantaslah dalam firman-Nya telah disebut Ka’bah sebagai petunjuk bagi seluruh semesta alam.
Fakta tersebut sekaligus bantahan Allah SWT terhadap Ahlul Kitab yang mengatakan bahwa rumah ibadah yang pertama dibangun berada di Baitul Maqdis.

Kenapa harus di Vaksinasi Meningitis ?



pemberian vaksinasi meningitis kepada calon jamaah haji merupakan upaya perlindungan terhadap bahaya penyakit meningitis meningokokus yang menular dan membahayakan jamaah haji Indonesia dan keluarganya.Hal ini sesuai dengan Undang-Undang No 13/2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji yang mengamanatkan kepada pemerintah untuk senantiasa melakukan pembinaan, pelayanan dan perlindungan terhadap jamaah haji Indonesia.Selain itu,
Pemberian vaksin meningitis merupakan syarat mutlak bagi jamaah haji yang akan memasuki wilayah Kerajaan Arab Saudi.Bagi mereka yang belum atau tidak diimunisasi meningitis meningokokus, maka Kerajaan Arab Saudi tidak akan memberikan visa/izin untuk memasuki negaranya.
Vaksin meningitis adalah vaksin wajib yang harus dilakukan calon jemaah haji untuk melindungi risiko tertular meningitis meningokokus, suatu infeksi yang terjadi pada selaput otak dan sumsum tulang belakang dan keracunan darah.
"Meningitis adalah penyakit serius dengan angka kematian tinggi. Bakteri ini sebenarnya tidak ada di Indonesia tapi untuk orang yang akan bepergian ke negara lain terutama ke daerah endemi, harus divaksin.Daerah endemik meningitis meningokokus antara lain Afrika, Amerika Utara, Amerika Latin, dan Selandia Baru. "Selama melakukan ibadah haji, kita akan bertemu dengan orang dari berbagai negara yang mungkin saja menjadi pembawa atau carrier bakteri meningitis," katanya.
Meningitis meningokukus disebabkan oleh lima tipe bakteri atau serogrup A,B,C,Y, dan W-135. "Penularannya melalui butiran ludah yang menempel di mukosa lalu masuk ke peredaran darah dan selaput otak," kata dokter yang menjadi wakil ketua komite penasihat ahli imunisasi nasional ini.
Penyakit meningokok di Arab Saudi lebih banyak publikasinya, termasuk oleh WHO setelah pada 1987 terjadi epidemi meningokok grup A yang dianggap terkait ibadah haji. Pemerintah Saudi Arabia akhirnya mewajibkan seluruh calon jamaah haji dan umrah untuk mendapatkan vaksin meningokok A dan C (vaksin bivalent A/C).
Pada tahun tersebut epidemi meningokok di daerah sabuk meningitis adalah meningokok grup A dengan usaha mengatasinya lewat pemberian vaksin meningokok rutin dan massal. Dalam waktu hampir 13 tahun, yaitu 2000 sampai 2002 terjadi lagi epidemi meningokok selama masa ibadah haji yang ternyata lebih didominasi oleh meningokok grup W. Pada 2000 di Saudi, dari 253 kasus yang diidentifikasi 161 (64 persen) dapat diidentifikasi serogrupnya, untuk serogrup W-135 sebanyak 93 kasus (37 persen), A 60 kasus (24 persen), dan pada tahun itu adalah outbreak W-135 yang terbesar.
Dalam waktu yang besamaan secara global terjadi juga peningkatan kejadian penyakit meningokok grup W. Kasus tersebut berasal dari jamaah yang baru pulang haji dan menularkan kepada orang sekelilingnya, bahkan di Burkina Faso 2002 terjadi epidemi W-135 pertama kali di Afrika Barat dengan kematian sekitar 1.060 orang dari 8.850 kasus.
Setelah kejadian tersebut, maka sejak tahun 2002 dinas kesehatan kerajaan Saudi Arabia mewajibkan para jamaah haji dan umrah untuk mendapatkan vaksinasi tetravalent polisakarida ACYW135 yang diberikan juga kepada semua anak sekolah di sana. Ternyata setelah tahun 2002, epidemi mayor W-135 tidak terjadi lagi, berbeda dengan meningokok grup A yang sangat sering muncul sebagai penyebab epidemi mayor terutama di daerah Afrika.
Terkait dengan kewajiban pemberian vaksin bagi calon jamaah haji  timbul pertanyaan, mengapa ada keyakinan munculnya galur W-135 kelak bisa mempunyai sifat seperti grup A, baik sebagai penyebab karier (seseorang sebagai pembawa kuman, tetapi tidak sakit) maupun epidemi penyakit sehingga pemberian vaksin ACYW135 massal tanpa penelitian memadai dan tanpa evaluasi tetap dilakukan sampai sekarang. Konsekuensinya, diperlukan penjelasan ilmiah mengapa galur W-135 ini bisa muncul menjadi epidemi, berubah dari sifatnya semula. Diperlukan pula data dan fakta masuk akal yang telah dilakukan WHO dan CDC sebagai respons cepat dalam memprediksi epidemi terkait program wajibnya vaksinasi W-135.
Kontrofersi Kehalalan Vaksin Meningitis
Majelis Ulama Indonesia menerbitkan sertifikat halal untuk vaksin meningitis produksi Novartis Vaccines and Diagnostics Srl dari Italia dan Zhejiang Tianyuan Bio-Pharmaceutical asal China. Dengan terbitnya sertifikat halal, fatwa yang membolehkan penggunaan vaksin meningitis terpapar zat mengandung unsur babi karena belum ada vaksin yang halal menjadi tak berlaku lagi.
”Titik kritis keharaman vaksin ini terletak pada media pertumbuhannya yang kemungkinan bersentuhan dengan bahan yang berasal dari babi atau yang terkontaminasi dengan produk yang tercemar dengan najis babi,” kata Ketua MUI KH Ma’ruf Amin
Vaksin meningitis produksi NV & D yang mendapat sertifikat halal itu bermerek Menveo Meningococcal Group A, C, W-135, dan Y Cnnyugate Vaccine. Produk TY yang halal adalah Mevac ACYW135.
Selama ini jemaah haji Indonesia mendapat vaksin meningitis produksi Glaxo Smith Kline (GSK) asal Belgia yang terpapar zat mengandung babi dalam pembuatannya. Vaksin itu diberikan untuk situasi darurat karena belum diketahui vaksin meningitis yang tidak terpapar zat mengandung babi.
Tahun ini GSK mengajukan    lagi produk Mencevax ACYW135 untuk sertifikasi halal, tetapi dari audit Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI, vaksin itu masih terpapar zat mengandung babi.
”Tetapi, media pertumbuhan vaksin produk GSK bersentuhan dengan zat mengandung babi,” kata Direktur LPPOM MUI Lukman Hakim.
Ma’ruf menegaskan, sertifikat halal itu berlaku dua tahun, tetapi LPPOM MUI tetap akan memantau proses produksi vaksin untuk menjamin kehalalan. ”Fatwa MUI sebelumnya yang mengatakan vaksin yang haram boleh digunakan karena tidak ada vaksin yang halal menjadi gugur karena sudah ada vaksin meningitis yang halal,” ujarnya
. Anggota DPR Lily Chadidjah Wahid pernah mempertanyakan fatwa halal vaksin meningitis produksi Novartis Vaccines and Diagnostics SRL dari Italia dan Zhejiang Tianyuan Bio-Pharmaceutical asal China, namun mengharamkan vaksin Glaxo Smith Kline (GSK) asal Belgia.
Menurut Lily fatwa itu diterbitkan oleh Majelis Ulama Indonesia. Dia menjelaskan, bibit awal/biang atau "parent seed" dari kedua vaksi itu berasal dari kuman meningitis yang dikembangbiakkan dengan medium enzim pankreas babi. Tapi dalam proses laboratoriumnya melalui pencucian dengan debu dan yang dipakai adalah keturunan ke-14, maka lembaga Bahtsul Masail PBNU menyatakan vaksin meningtis adalah halal.
"Tapi oleh MUI vaksin mevac TM-ACW 135Y ex Glaxo Smith Kline Beecham Pharmceutical Belgium diharamkan. Sementara vaksin Menveo Meningococcal group A,C,W, 135 dan Y conyugate vaccine ex Novartis vaccine dan diagnostic S.R.L yang 'parent seed'-nya sama dengan Mencefax dinyatakan halal," katanya.
Sedangkan, vaksin Meningococcal ex Zheijiang Tianyuan Pharmaceutical yang belum diujikan pada manusia sama sekali, dinyatakan halal. "Ada apa sebenarnya dengan MUI," kata Lily.
Ia menenggarai, adanya perbedaan soal fatwa halal-haram terhadap kedua vaksin tersebut tak lain karena persaingan bisnis. "Karena untuk pengadaan vaksin tersebut bernilai kurang lebih Rp60 miliar. Harga vaksin Menveo beberapa kali lebih besar atau mahal dari harga vaksin Mencefax. Jadi ini persaingan bisnis saja," kata Lily.
Indonesia masih belum mampu memroduksi vaksin meningitis halal. Padahal, setiap tahun ada ratusan ribu jamaah umrah dan haji asal Indonesia harus disuntik vaksin meningitis sebelum terbang ke Tanah Suci. Menurut data pada Kedubes Arab Saudi di Indonesia, pada 2010 saja terdapat 310 ribu jamaah umrah dan 211 ribu  jamaah haji dari Indonesia yang mengunjungi Ka'bah di Makkah, Arab Saudi
Sejak 2010, Indonesia mengimpor vaksin meningitis halal dari produsen vaksin Eropa dan Cina. Harga vaksin meningitis halal impor tersebut diklaim lebih dari tujuh kali lipat vaksin yang dibuat dengan bantuan tripsin babi.
“Biofarma yang telah mengantongi sertifikat prakualifikasi WHO seharusnya bisa melihat besarnya potensi pasar muslim untuk membuat produksi vaksin halal,

Haji itu Gaya Hidup..?



Di jaman yang penuh dengan kemudahan dan fasilitas ini menunaikan ibadah umrah dan haji telah menjadi gaya hidup sebagian kaum Muslimin dari sudut dunia manapun, baik itu pejabat pemerintah, tokoh agama, kalangan selebritis, pengusaha maupun mereka yang berasal dari kalangan awam. Mereka dengan mudah dan ringan mengunjungi Baitullah (Rumah Allah) layaknya mengunjugi rumah kawan, kenalan atau kerabat di luar desa atau di luar kota. Saking mudah dan ringannya hingga sebagian dari mereka mampu haji atau umrah setiap tahunnya. Bahkan juga tidak mengherankan ada yang mampu beberapa kali dalam setahun pulang balik antara Tanah Air dan Tanah Suci.
Sangat disayangkan ketika umroh berubah menjadi sekedar trend atau gaya hidup orang-orang berduit. Sementara terkadang mereka sendiri belum melaksanakan rukun Islam yang kelima, yaitu berhaji. Bukankah lebih baik melaksanakan haji terlebih dahulu? Jika mereka sudah mampu dan siap berumroh, kenapa pula mereka tidak siap berhaji?
Lalu, ketika ada orang yang berumroh sampai berkali-kali, bukankah lebih baik mengumrohkan orang lain? bahwa menghajikan atau mengumrohkan orang lain, pahalanya sama dengan berangkat haji sendiri. Jika para orang berduit mampu memahamai hal ini dan berhati lapang, tentu mereka akan memilih mengumrohkan orang lain daripada dia sendiri yang pergi umroh untuk ke sekian kalinya. Dan dengan begitu, semakin banyak pula orang yang bisa merasakan nikmatnya berkunjung ke rumah Allah.
Umroh menjadi gaya hidup tentu tidaklah salah. Hanya saja ketika umroh dijadikan sebagai wahana riya atau pamer tentu kurang tepat, apalagi diberitakan secara berlebihan, khawatir tanpa sengaja, ada muncul di hati kecil kita perasaamn riya itu. Saya rasa para selebritas harus bisa menjaga niat awal mereka berumroh, sehingga pemberitaannya pun tidak serta merta menjadi ajang “takabur”.
Fenomena tersebut  menunjukkan adanya peningkatan ghiroh keislaman dalam beramal di kalangan umat Islam. Namun fenomena ini juga patut menjadi keprihatinan dan bahan renungan kita bersama.Apakah patut menjadikan haji dan atau umroh sebagai gaya hidup sedangkan pada saat yang sama ada begitu banyak saudara-saudara seiman (dan jumlah mereka ini jauh melebihi mereka yang mampu menjadikan haji dan umrah sebagai gaya hidup) yang menjadi korban peperangan, bencana alam, bencana ekonomi dan bencana sosial?
Pribadi yang berakal sehat dan beriman tentu tidak bisa menerima hal ini dan menjawab tidak patut!"Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu tanda keimanan seorang Muslim adalah mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Dengan demikian dia tidak akan pelit mengerahkan daya, upaya, waktu dan dana untuk menjaga keberlangsungan, kesejahteraan dan keselamatan hidup saudara-saudara seagamanya.
Dr. Wael Shihab, yang memperoleh gelar doktor dalam bidang Studi Islam dari Universitas Al-Azhar Mesir, mantan Ketua Unit Fatwa di IslamOnline.net memaparkan, tidak bisa diterima jika seorang Muslim berulang kali melakukan ibadah umrah dan haji yang merupakan ibadah sunah tapi meninggalkan kewajibannya membantu saudara seagamanya untuk mempertahankan identitas dan keyakinan agama mereka, melindungi kehidupan mereka, mendukung dakwahnya, kesejahteraan masyarakat, mendukung proyek-proyek keislaman seperti pusat Islam dan sekolah-sekolah yang mendidik Muslim dan non-Muslim untuk mengetahui Islam dan ajaran-ajarannya, serta mendidik generasi penerus umat Islam dengan nilai-nilai Islam.
Rasulullah saw bersabda yang artinya:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw ditanya, "Amal apakah yang paling utama?" Maka beliau menjawab, "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya." Ditanyakan lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." Ditanyakan lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Haji mabrur." (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, ada baiknya, jika kita memiliki harta berlimpa, mari kita semua memberikan prioritas pada tugas jiwa sosial. Tanpa melarang keinginan melakukan haji dan umrah, sebaiknya ibadah ini kita lakukan sekali-dua kali, bukan berulang kali. 
Jemaah yang datang menjadi tamu Allah bukanlah orang suci yang menghadap Sang Pencipta dengan hati yang putih. Mereka membawa segunung dosa, segudang maksiat, dan setumpuk tipu muslihat. Meski demikian, mereka bersimpuh di Padang Arafah, meminta ampunan, ingin hidup berkah, ingin dikekalkan kenikmatannya, ingin hidup sejahtera dan bahagia, ingin dimanja, dan selalu dekat dengan-Nya. Apakah mereka dikabulkan?inilah istimewanya haji. Meskipun seorang hamba datang membawa dosa sebesar bumi dan dan seluas langit, Allah mengampuninya. Asalkan orang tersebut tulus meminta ampunan dan kemudian menjadi mabrur. Mengapa harus mabrur? Karena orang yang mabrur berarti mengubah perilaku yang menyebabkan dosa menjadi perilaku yang mendatangkan kebaikan. Menghentikan semua perbuatan buruk dan berganti haluan ke arah kebajikan. Kalau haji tak mendatangkan perubahan, berarti orang tersebut mardud (ditolak), kebalikan dari mabrur.
Dibalik perintah melaksanakan Ibadah Haji, Allah menjanjikan bahawa orang yang mengerjakan haji akan dapat menyaksikan keuntungan-keuntungan yaitu hikmah-hikmah yang diperoleh  di  balik ibadah haji itu .
Peneliti ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur, kandidat Master Studi Al-Qur’an di IIUM (International Islamic University Malaysia) SEBUAH sinetron berdasarkan kisah nyata dari Mesir beberapa hari yg lalu ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta tanah air. Sinetron tersebut mengisahkan seorang ibu yg diajak putranya pergi ke Tanah Suci utk melaksanakan ibadah umrah. Betapa bahagianya si anak karena ibunya dapat mengunjungi Tanah Suci. Tapi kebahagiaannya itu berubah menjadi kesedihan tatkala ibunya berada di dlm kawasan Masjidil Haram tak bisa melihat Ka’bah karena tak bisa melihat apa-apa kecuali kegelapan. Dia tak putus asa. Dia tiada putus memohon kepada Allah SWT agar Dia berkenan mengampuni dosa-dosa ibunya serta membuat ibunya bisa melihat Ka’bah. Namun Allah SWT belum berkenan mengabulkan doa-doanya hingga saatnya harus kembali ke tanah air mereka. Dia pun tak putus asa utk mengajak ibunya utk pergi ke Tanah Suci hingga lima kali umrah dan satu kali haji meskipun ternyata ibunya tetap mengalami hal yg sama, ibunya selalu mengalami kebutaan ketika berada di kawasan Masjidil Haram

Menjadi tamu Allah
Kaabah atau Baitullah itu dikatakan juga sebagai 'Rumah Allah'. Walau bagaimana pun haruslah difahami bahawa bukanlah Allah itu bertempat atau tinggal disitu. Sesungguhnya Allah itu ada dimana mana. Ia dikatakan sebagai 'Rumah Allah' kerana mengambil apa yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim a.s. oleh yang demikian orang yang mengerjakan haji adalah merupakan tetamu istimewa Allah. Dan sudah menjadi kebiasaan setiap tetamu mendapat layanan yang istimewa dari tuan rumah.
Mendapat pendidikan langsung daripada Allah 
Di kalangan mereka yang pernah mengerjakan haji, mereka mengatakan bahawa Ibadah Haji adalah puncak ujian daripada Allah s.w.t. Ini disebabkan jumlah orang yang sama-sama mengerjakan ibadah tersebut adalah terlalu ramai hingga menjangkau angka jutaan orang.
Menghapus dosa
Mengerjakan Ibadah Haji merupakan kesempatan untuk bertaubat dan meminta ampun kepada Allah. Terdapat beberapa tempat dalam mengerjakan ibadah haji itu merupakan tempat yang mustajab untuk berdoa dan bertaubat. Malah ibadah haji itu sendiri jika dikerjakan dengan sempurna tidak dicampuri dengan perbuatan-perbuatan keji maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya sehingga ia suci bersih seperti baru lahir ke dunia ini.
Memperkuat iman
Ibadah Haji secara tidak langsung telah menghimpunkan manusia Islam dari seluruh pelusuk dunia. Mereka terdiri dari berbagai bangsa, warna kulit dan bahasa pertuturan. Hal ini membuka pandangan dan fikiran tentang kebenaran Al-Quran yang diterangkan semua dengan jelas dan nyata.
Mengambil pelajaran daripada peristiwa orang-orang soleh
Tanah suci Mekah adalah merupakan lembah yang menyimpan banyak rentetan peristiwa-peristiwa bersejarah. Diantaranya sejarah nabi-nabi dan rasul, para sahabat Rasulullah,para tabiin, tabi’ut tabiin dan salafus soleh yang mengiringi mereka. Sesungguhnya peristiwa tersebut boleh diambil iktibar atau pengajaran untuk membangun jiwa seseorang. Rasulullah bersabda: "Sahabat-sahabatku itu laksana bintang-bintang dilangit, jika kamu mengikut sahabat-sahabatku niscaya kamu akan mendapat petunjuk." Di antara peristiwa yang terjadi ialah:
Pertemuan di antara Nabi Adam a.s. dengan Siti Hawa di Padang Arafah.Siti Hajar dan Nabi Ismail ditinggalkan di tengah padang pasir yg kering kontang di antara Bukit Safa dan Marwah.Pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. menyembelih Nabi Ismail sebagi menurut perintah Allah.Nabi Ismail a.s. dan Nabi Ibrahim mendirikan Kaabah.
Lahirnya seorang anak yatim yang miskin dan serba kekurangan. Tidak tahu membaca dan menulis tetapi mempunyai akhlak yang terpuji hingga mendapat gelaran 'Al-Amin.Medan Badar dan Uhud sewajarnya mengingati seseorang kepada kegigihan Rasulullah dan para sahabat menegakkan agama Allah.
Merasa bayangan Padang Mahsyar
Bagi orang yang belum mengerjakan haji tentunya belum pernah melihat dan mengikuti perhimpunan ratusan ribu manusia yang berkeadaan sama tiada beza. Itu semua dapat dirasai ketika mengerjakan haji. Perhimpunan di Padang Arafah menghilangkan status dan perbezaan hidup manusia sehingga tidak dapat kenal siapa kaya, hartawan, rakyat biasa, raja atau sebagainya. Semua mereka sama dengan memakai pakaian seledang kain putih tanpa jahit.
Syiar perpaduan umat Islam
 Ibadah Haji adalah merupakan syiar perpaduan umat Islam. Ini kerana mereka yang pergi ke Tanah Suci Makkah itu hanya mempunyai satu tujuan dan matlamat iaitu menunaikan perintah Allah atau kewajipan Rukun Islam yang kelima. Dalam memenuhi tujuan tersebut mereka melakukan perbuatan yang sama,memakai pakaian yang sama, mengikut tertib yang sama malah boleh dikatakan semuanya sama. Ini menggambarkan perpaduan dan satu hati umat Islam. Dan gambaran inilah yang semestinya diamalkan dalam kehidupan seharian umat Islam apabila mereka kembali ke negara asal masing-masing.
Sejatinya orang yang pulang melaksanakan ibadah haji membawa perubahan prilaku dan sikap akan bergaya hidup seperti calon penghuni surga, menjaga kemurnian tauhid, setia pada sunah-sunah Rasulullah,  serta meningkatkan kualitas iman dan ilmu. Selain itu, menjaga diri dari dosa besar maupun kecil dan senantiasa  menjalankan amal yang bakal mendatangkan ampunan Allah SWT.
Hal ini diungkapkan dalam hadis dari Abu Hurairah. Rasulullah bersabda,
 “Dari umrah yang satu ke umrah berikutnya akan menghapuskan dosa di antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” ( HR Bukhari dan Muslim ). 
Akhlak para haji adalah akhlaknya orang mulia karena selama berhaji mereka telah melatih diri mengendalikan syahwat dan emosi pada tingkatan yang tinggi. Sepantasnya, akhlak seorang haji lebih mulia dibandingkan yang lainnya. Mereka tidak mengumbar kata-kata kotor pembangkit birahi dan  tidak melakukan dosa-dosa besar ( kefasikan ).
Seperti digambarkan pada hadis dari  Abu Hurairah yang menyatakan,  Rasulullah bersabda,  “Barang siapa yang berhaji ke rumah ini  (Ka’bah ) lalu tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan, dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” ( HR Bukhari dan Muslim ).
Ibadah dan zikir para haji bukan hanya lebih banyak dari orang lain. Melainkan pula disertai tingkat keyakinan tinggi sebab pengenalan mereka terhadap Allah sudah baik dan didukung nilai tauhid yang kuat. Mereka memprioritaskan keselamatan dan kebahagiaan akhirat dibandingkan hal-hal yang bersifat duniawi.
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, berzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut ( membangga-banggakan ) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Di antara manusia ada orang yang bendoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami ( kebaikan ) di dunia,’ dan tiadalah baginya bahagian ( yang menyenangkan ) di akhirat.” ( QS al-Baqarah [2] : 200 ).
Orang yang telah berhaji adalah mereka yang berupaya menyempurnakan keislamannya. Jadi, sudah selayaknya mereka menjadi teladan kesalehan individual dan sosial bagi semua. Hal ini ditunjukkan para haji sebelum periode kemerdekaan, mereka menjadi teladan dan motor penggerak dalam memerdekakan umat dan bangsa dari kejumudan syirik dan melawan penjajah. Ibadah haji dalam sejarah kehidupan umat Islam sarat dengan makna dan memiliki pengaruh yang besar dalam jalannya kehidupan umat dan perjuangan mereka. Pengaruh ibadah haji itu masih dapat dirasakan di negeri ini hingga pada masa penjajahan Belanda. Dengan ibadah haji, kaum Muslim dahulu mendapatkan pencerahan politik dan terbangkitkan spirit perjuangan mereka. Pengaruh ideologis dan politis inilah yang menyebabkan Belanda khawatir. Karena itu, tahun 1908 Belanda pernah menegaskan bahwa melarang umat Islam berhaji akan lebih baik daripada terpaksa harus menembak mati mereka. (H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, hlm. 22)
Namun sayang, pada faktanya saat ini ibadah haji seolah kehilangan makna dan pengaruh politis dalam perjuangan Islam. Pelaksanaan ibadah haji kian hari kian menurun kualitasnya, yang menonjol darinya kini hanyalah ibadah ritual semata. Banyak jama’ah yang melaksanakan ibadah ini hanya sekadar menggugurkan kewajiban. Lebih parah lagi tak sedikit yang menjalankannya seolah wisata religi bahkan dihiasi wisata belanja, membeli oleh-oleh untuk sanak keluarga dan tetangga. Begitu pun ketika melihat artis-artis ibukota, hari ini berangkat haji besok-besok sudah bermaksiat kembali. Walau sudah bergelar haji, mereka tak malu untuk mengumbar aurat atau cipika-cipiki dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.