Sabtu, 18 Agustus 2012

MEMAHAMI AYAT ALLAH


Walaupun ayat-ayat Allah sama ada ayat-ayat qauliah mahupun kauniah adalah terbuka kepada sesiapa sahaja yang ingin membaca dan menelitinya , namun terdapat berbagai halangan yang akan berhenti di hadapan kita yang didokong oleh iblis dan hawa nafsu bagi memastikan anak cucu adam terus berada di dalam kesesatan dan jauh dari petunjuk Allah s.w.t. Halangan-halangan ini muncul dalam bentuk sifat-sifat peribadi yang kontradik berpunca dari syahwat seperti nifaq, takabbur, zalim, dusta dan sifat-sifat yang berpunca dari salah faham atau syubhat seperti jahil, ragu-ragu, menyimpang. Kesemua ini menatijahkan kekufuran terhadap Allah s.w.t.

Hasyiah
Sifat yang berasal dari penyakit syahwat
1. Fasiq
Syarah
• Iaitu orang-orang yang melanggar janji Allah, memutuskan apa yang diperintahkan oleh Allah menghubungkannya dan mereka melakukan bencana di atas muka bumi

Dalil
• 2:26-27: Sesungguhnya Allah tidak malu menjadikan nyamuk untuk menjadi perumpamaan atau benda yang lebih hina daripadanya. Adapun orang-orang yang beriman mengetahui bahawa yang demikian itu suatu kebenaran dari Tuhan tetapi orang-orang yang kafir berkata: Apakah maksud Allah dengan perumpamaan ini ?
• 59:19: Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq.

2. Sombong
Syarah
• Adalah orang yang hatinya engkar dan membantah terhadap ayat-ayat Allah dan mereka tidak beriman dengan Allah
Dalil
• 16:22 :
"Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong."
Orang-orang yang tidak beriman kepada hari Akhirat, hati mereka indkar dan merekaitu orang-orang yang sombong
• 40:35: Orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa keterangan yang sampai kepada mereka. Amat besarlah kebencian di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman (terhadap mereka). Demikianlah Allah mengecap/ menutup tiap-tiap hati orang yang sombong lagi ganas.
• 40:56 :
"Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa keterangan
• 7:12:
"Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".
Allah telah menghalau Iblis dari syurga kerana bersikap sombong dan tidak mahu tunduk kepada arahan Allah.

3. Zalim
• 61:7: Siapakah yang terlebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diseru kepada Islam ? Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
• 32:22 : Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang diberikan peringatan dengan ayat-ayat tuhannya kemudian dia berpaling daripadanya&ldots;

4. Dusta
• 2:10 : Dalam hati mereka ada penyakit (syak wasangka) lalu ditambah Allah penyakit itu dan untuk mereka itu siksa yang pedih kerana mereka berdusta.
• 77:9-19:
"dan apabila langit telah dibelah,
"dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu,
"dan apabila rasul-rasul telah ditetapkan waktu (mereka).
"(Niscaya dikatakan kepada mereka:) "Sampai hari apakah ditangguhkan (mengazab orang-orang kafir itu)?"
"Sampai hari keputusan.
"Dan tahukah kamu apakah hari keputusan itu?
"Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.
"Bukankah kami telah membinasakan orang-orang yang dahulu?
"Lalu Kami iringkan (azab Kami terhadap) mereka dengan (mengazab) orang-orang yang datang kemudian.
"Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa.
"Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.".
Kecelakaan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah.

5. Banyak dosa
• 83:14 :
"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka."
Berkarat hati mereka kerana dosa yang mereka lakukan.
Semua sifat-sifat yang disebutkan di atas tadi akan berakhir dengan kemurkaan dari Allah s.w.t. Walau bagaimanapun sifat-sifat ini boleh dirawati dan diubati dengan usaha yang penuh mujahadah. Manakala kelompok kedua adalah sifat-sifat yang berasal dari penyakit syubhat yang ada pada personaliti seseorang.

7. Jahil
• 39-65:
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi."
Orang-orang yang tidak mengambil iktibar dari wahyu
8. Ragu-ragu
• 22:55:
"Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur'an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat."
Orang-orang kafir sentiasa di dalam keraguan

9. Menyimpang
• 5:13 :
"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
Oleh kerana mereka melanggar perjanjian , Allah kutuk mereka dan menjadikan hati mereka keras sehingga mereka mengubah kalimat Allah.

10. Lalai
• 7:179 :
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."
Mereka memiliki hati, mata dan telinga tetapi semuanya tidak difungsikan dan mereka menjadi seumpama binatang lalu disediakan kepada mereka jahannam.
Semua sifat-sifat yang berpunca dari syubhat ini akan berakhir dengan kesesatan kerana ia menghalang dari menerima hidayah daripada Allah. Fenomena ini boleh diubati dengan ilmu-ilmu Islam yang di dapati lalu diaplikasikan dalam bentuk amalan

Jumat, 17 Agustus 2012

DIMANAKAH NILAI KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB…?


DIMANAKAH NILAI KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB…?

Ketika moralitas bangsa ini menjadi sorotan karena terdegradasi  muncul sekarang persoalan dari mana kita memulai perbaikan bangsa ini,bangsa Indonesia mempunyai nilai-nilai luhur yang menjadi pegangan peradaban berbangsa dan bernegara,tercermin dalam sila kedua Pancasila “Kemanusiaan yang adildanBeradab”.
Kemanusiaan yang memiliki keadilan dan mempunyai Peradaban dalam segala sendi kehidupan.Keadilan yang menjadi identitas bangsa ini hanya menjadi sebuah impian masyrakat kecil yang terus menjadi objek ketidak adilan elitpolitik yang tidak beradab.Keadilan macam apa yang sesungguhnya yang terkandung dalam nilai Pancasila bagi segenap bangsa Indonesia itu.
Dalam sebuah karyanya Prof. Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, menjelaskan tentang makna adil, yaitu
“menimbang yang samaberat, menyalahkan yang salahdanmembenarkan yang benar, mengembalikan hak kepada yang empunya dan jangan berlaku zalim, aniaya.” Lawan dari adil adalah zalim, yaitu memungkiri  kebenaran karena hendak mencari keuntungan bagi diri sendiri; mempertahankan perbuatan yang salah sebab yang bersalah itu ialah kawan atau keluarga sendiri .“Makaselama keadilan itu masih terdapat dalam masyarakat,pergaulan hidupmanusia,maka selama itu pula pergaulan akan aman sentosa, timbul amanat dan percaya-mempercayai,” tulisHamka.
Jika kita mengoreksi kenyataan hari ini ketidak adilan dan ketidak beradaban jadi satu paket dalam wacana perbaikan moralitas bangsa ini  ,dari pakar politik,jurnalis,praktisi pendidikan mulai mencari langkah untuk solusi perbaikan bangsanya. Persoalannya,penyakit ini sudah kronis tidak bias hanya diseminarkan dan dibahas di media,masyarakat Indonesia   hanya bias meratapi nasib bangsanya karena mereka tidak percaya lagi kepada para pemimpin  yang mereka amanahkan membangun peradaban yang  adil dan beradab.
 Ketidak adilan membuat mereka bertindak anarkis melanggar aturan dan hukum,akhirnya mereka buat sendiri pengadilan rakyat dan mereka sendiri yang menjadi hakimnya tak peduli aparat atau pejabat  di  dapannya.Masyarakat Indonesia sudah jenuh dengan suguhan sarapan pagi di meja informasi setiap hari harus menelan kenyataan batapa hancur potret bangsanya.Ironisnya tokoh dan pigur pemimpin yang mereka banggakan jadi dalang dan peran utama dalam mencoreng lembaran kelam negeri yang adil dan beradab.
Berbicara konsep adab memang sangat terkait dengan pemahaman tentang wahyu atau kitab suci konsep adab bukan sekedar mereka sopan dan santun tapi kesopanan dan kesantunan itu harus sesuai dengan harkat dan martabat sesuai dengan kehendak Ilahiyah dalam kata lain Ahlak.Tak bias kita pungkiri pornografi dan sekbebas,premanisme dikalangan pelajar yang kurang ajar menampar muka para pengajar yang hanya mementingkan otaknya cerdas dan kompotitif dieara globalisasi tapi luput memberikan pendidikan moral dan ahlak kepada siswanya.
Apa yang salah dengan kondisi hariini.?,siapa yang bertanggung jawab dengan semua ini?..tentulah kita mulai dari diri peribadi kita untuk muhasabah,pepatah mengatakan “buah  yang  kita petik hari ini adalah biji  yang  kita semai hari yang lalu”.
Negara ini begitu banyak alim-alim ulamanya,orang-orang cerdas,pemimpin-pemimpin yang jujur ingat itu belum jaminan mereka mampu mengurai ulang benang yang  sudah kusut jika kita tidak berperan aktif sebagai elemen bangsa untuk ikut serta mengambil bagian dari perbaikan bangsa ini.
Kembali kepada diri kita yang jadi bagian dari bangsa ini,mulai diri kita yang kita perbaiki dengan berpegang teguh kepada ajaran agama dan keyakinan.Begitu banyak prilaku dan kebijakan yang sudah menyimpang dari ajaran Agama, maupun morma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Tidak dapat kita pungkiri bahwa moralitas suatu masyarakat mencerminkan bagaimana kehidupan masyarakat itu.
Nabi Muhammad saw berhasil membangun peradaban Islam di Madinah, yakni suatu masyarakat  yang menegakkan adab dalam kehidupan mereka. Masyarakat beradab adalah masyarakat yang memuliakan orang yang beriman, berilmu, orang yang shalih, dan orang yang taqwa,bukan orang yang kuasa, bukan banyak harta, bukan keturunan raja, bukan berparas rupawan, dan bukan banyaknya pengikut.
Peradaban yang dibangun Nabi Muhammad saw di Madinah adalah sebuah contoh ideal. Masyarakat Madinah adalah masyarakat yang haus ilmu, cintaibadah, dan cinta pengorbanan.Kondisi itu sangat jauh berbeda denngan kondisi masyarakat Jahiliah, yang merupakan masyarakat yang tidak beradab, alias masyarakat biadab.

Derita Para Pendengki

Ada yang lebih patut dikasihani melebihi orang yang menderita penyakit dengki. Jika umumnya manusia berpikir dan berbuat untuk sesuatu yang menguntungkan dirinya, atau sekedar menyenangkan hatinya, tidak demikian halnya dengan pendengki. Tak ada keuntungan sedikitpun yang dihasilkan pendengki. Tak ada pula kesenangan hati yang dipanen oleh orang yang hasud.
Kerisauan hati yang tak putus-putus, dialami oleh pendengki saat melihat orang lain mendapat nikmat. Semakin banyak nikmat disandang orang lain, makin menguat gelisah hati pendengki. Ini tidak akan berakhir hingga nikmat tersebut hilang dari orang yang didengki, bahkan terkadang belum terobati juga rasa dengki itu sebelum orang yang didengki tertimpa banyak kerugian. Dari sini kita tahu, betapa jahat seorang pendengki, ia tidak rela melihat orang lain bahagia, sebaliknya ia bersuka cita melihat orang lain bergelimang lara. Allah Ta'ala menggambarkan sikap dengki ini dalam firmanNya, "Bila kamu memperoleh kebaikan, maka hal itu menyedihkan mereka, dan kalau kamu ditimpa kesusahan maka mereka girang karenanya." (QS. Ali Imran: 120)
Berbeda dengan kesedihan atau musibah yang dialami oleh orang yang bersabar, kegalauan yang terus menerus dirasakan oleh pendengki adalah musibah berat yang sama sekali tidak mendatangkan pahala, bahkan berpotensi menggerogoti kebaikan, sebagaimana api melalap kayu bakar yang telah kering.
Nabi SAW bersabda, "Hindarilah oleh kalian hasad, karena hasad bisa memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar." (HR Abu Dawud)
Maksud memakan kebaikan adalah menghilangkannya, membakarnya dan menghapus pengaruhnya, seperti yag disebutkan dalam Kitab Faidlul Qadiir. Ini juga menunjukkan bahwa kebaikan itu bisa sirna dalam sekejap jika terbakar oleh kedengkian. Makin besar api kedengkian, makin cepat melalap habis kebaikan. Al-Manawi di dalam at-Taisir bi Syarhi al-Jami'is Shaghir menjelaskan sebab dihilangkannya kebaikan pendengki adalah, "karena orang yang dengki itu berarti menganggap Allah Ta'ala jahil, tidak bisa memberikan sesuatu sesuai dengan proporsinya." Ia menganggap Allah salah dalam mengalamatkan nikmat dan karunia. Seakan ia lebih tahu dari Allah tentang siapa yang lebih layak untuk mendapatkannya. Sehingga layaklah pendengki dihilangkan kebaikan-kebaikannya. Sungguh rugi para pendengki, selalu risau di dunia, terancam bangkrut di akhirat.